Posterous theme by Cory Watilo

Cinta (Tak) Ada Mati

Oleh Handewi Soegiharto, Tulisan Sederhana

Kembali saya mengulas soal judul di atas. Semata-mata karena saya sangat mengagumi pilihan kata dari teman saya, Eka Kurniawan yang suka menyulap kata-kata Indonesia sehari-hari menjadi bahasa yang maha dahsyat. Judul bukunya adalah Cinta Tak Ada Mati, berkisah tentang seorang lelaki yang sedemikian mencintai seorang perempuan, namun tak sampai akibat pernikahan sang perempuan dengan lelaki lain. Bahkan sampai akhir hayat si perempuan, si lelaki rela mencium bibir suami perempuan tersebut hanya untuk mencari sisa-sisa bibir perempuan yang ia cintai di bibir si suami.

Mski saya sempat memprotes logika yang dipakai oleh Eka saat bertemu di sebuah kedai buku di bilangan Pondok Indah kira-kira setahun yang lalu, dalam hati saya sangat mengagumi pilihan bahasanya yang sekali lagi, maha dahsyat. Menurut saya, tidak ada seorang pun yang dapat merasakan Cinta Tak Ada Mati. Menurut saya seharusnya dipakai symbol kurung untuk kata “Tak”, menjadi Cinta (Tak) Ada Mati. Jadi hanya sebentar saja orang bisa merasakan cinta yang tiada mati, namun seringkali cinta tersebut mati juga bahkan saat cinta itu masih berada di samping kita. Eka hanya tertawa mendengar komentar saya. 

Read the rest of this post »

Apresiasi Cerpen "Pengantar Tidur Panjang"

oleh Dyah Prabaningrum, Pelangi di Mata Merpati

Di sini saya akan membagikan hasil apresiasi cerpen karya eka kurniawan yang berjudul Pengantar Tidur Panjang.

Eka Kurniawan melalui cerpennya "Pengantar Tidur Panjang" bercerita tentang aku, seorang anak sulung yang menengok Bapaknya yang sedang kritis. Ia secara tersirat mengagumi kedemokratisan, kebaikan, toleransi dan kebijaksanaan Bapaknya. Dan akhirnya Bapak “si aku “ ini meninggal dunia di malam kedua keberadaannya di rumah.

Akhirnya Bapak meninggal, di malam kedua keberadaanku di rumah.

Tetapi hal yang paling mengejutkannya adalah walaupun Bapaknya telah meninggal, Bapaknya seolah – olah masih mampu memberinya uang saku.

Read the rest of this post »

Pembacaan Ulang Pengarang Stensilan

oleh Sidik Nugroho, Jawa Pos

Nama Abdullah Harahap tak pernah dikenal sebagai tokoh penting dalam sastra Indonesia pada eranya (tahun 80-an). Namun ia adalah seorang pengarang produktif, menulis banyak novel stensilan tentang setan, balas dendam, seks, jimat, dan segala yang berbau horor. Kepengarangan Abdullah memang telah usai. Bahkan buku-bukunya kini susah ditemui di toko-toko buku loak sekalipun.

Namun, ada tiga sastrawan muda yang mempunyai kesamaan sejarah literer dalam membangun dunia kepengarangannya. Ketiganya, dalam suatu masa, pernah membaca karya-karya Abdullah Harahap. Dan mereka kemudian menghadirkan buku kumpulan cerpen, Kumpulan Budak Setan, sebagai karya kreatif-kolaboratif hasil pembacaan ulang karya-karya si pengarang stensilan itu.

Read the rest of this post »

Interupsi Horor Budak Abdullah Harahap

oleh Sica Harum, Media Indonesia

Mungkin Anda tak tahu Abdullah Harahap, pun tak merasa penting mengetahuinya atau tidak. Abdullah cuma menulis cerita horor picisan seputar balas dendam, pembunuhan, motif-motif cerita setan, dan arwah penasaranyang dibumbui seks pada era 70-80-an. Simak saja judul-judulnya, antara lain Penunggu Jenazah, Babi Ngepet, sampai Perawan Tumbal Setan.

Tapi, bagi Eka Kurniawan, Intan Paramadhita dan Ugoran Prasad, nama Abdullah tidak begitu saja hilang. Pada masanya, Abdullah merupakan penulis produktif. Remaja era itu-ter utama yang besar di kota kecil--biasanya tahu betul, kisah-kisah Abdullah bisa membuat perbincangan jadi seru. Eka membaca karya Abdullah saat bertumbuh di Pangandaran, Jawa Barat. Katanya, besar di kota kecil membuatnya sulit mengakses karya sastra serius. Begitu juga Ugo-panggilan Ugoran Prasad--yang besar di Tanjung Karang, Lampung.

Read the rest of this post »

Budak Setan Menafsir Horor

oleh Ismi Wahid, Tempo Interaktif

Kupejamkan kembali mataku dan kubayangkan apa yang dilakukannya di balik punggungku. Mungkin ia berbaring telentang? Mungkin ia sedang memandangiku? Aku merasakan sehembus napas menerpa punggungku. Akhirnya aku berbisik pelan, hingga kupingku pun nyaris tak mendengar: "Ina Mia?"
(Riwayat Kesendirian, Eka Kurniawan)

Jilbabnya putih kusam, membingkai wajahnya yang tertutup bedak putih murahan--lebih mirip terigu menggumpal tersapu air--dan gincu merah tak rata serupa darah yang baru dihapus. Orang kampung tak yakin apakah mereka sedang melihat bibir yang tersenyum atau meringis kesakitan.
(Goyang Penasaran, Intan Paramaditha)

"Duluan mana ayam sama telur," gumam Moko pelan. Intonasinya datar sehingga kalimat itu tak menjadi kalimat tanya. Laki-laki yang ia cekal tak tahu harus bilang apa, tengadah dan menatap ngeri pada pisau berkilat di tangannya. Moko tak menunggu laki-laki itu bersuara, menancapkan pisaunya cepat ke arah leher mangsanya. Sekali. Sekali lagi. Lagi. Darah di mana-mana.
(Hidung Iblis, Ugoran Prasad)

Read the rest of this post »

Abdullah Harahap Memperkaya Diskusi Horor

Wawancara dengan Intan Paramaditha

oleh Ismi Wahid, Tempo Interaktif

Buku kumpulan cerita horor Kumpulan Budak Setan akan diluncurkan malam ini di Komunitas Salihara, Jalan Salihara Nomor 16, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Buku itu berisi 12 cerpen karya Intan Paramaditha, Eka Kurniawan dan Ugoran Prasad.

Cerita-cerita pendek itu dihasilkan setelah mereka membaca dan menafsir ulang cerita-cerita horor popular karya Abdullah Harahap dari masa 1970-1980-an. Pada masanya, Abdullah adalah penulis paling produktif di antara penulis horor lainnya, seperti S.B Chandra dan Fredy S.

Meski karya Abdullah sangat popular dan cenderung picisan, tetapi ketiga penulis ini sangat berminat untuk menafsirnya. Berikut ini wawancara Tempo dengan Intan Paramaditha, salah satu penulis di buku tersebut.

Read the rest of this post »

Melacak Jejak Horor Abdullah Harahap

oleh Akhmad Sekhu, Suara Merdeka

Masih ingatkah Anda pada Abdullah Harahap? Bagi Anda yang menyukai cerita-cerita horor sekitar tahun 70-80-an tentu ingat betul Abdullah Harahap yang selalu bercerita seputar balas dendam, seks, pembunuhan, serta motif-motif cerita setan, arwah penasaran, obyek gaib (jimat, topeng, susuk), dan manusia jadi-jadian. Tapi bagi Anda yang tidak ingat karena tidak tahu, jangan khawatir karena Anda sekarang akan diajak tiga penulis muda berbakat; Eka Kurniawan, Intan Paramaditha, dan Ugoran Prasad untuk melacak jejak cerita-cerita horor yang diusung Abdullah Harahap dalam sebuah buku berjudul “Kumpulan Budak Setan”


Dari membaca judul bukunya dan tampilan sampulnya menampakkan perempuan berwajah seram dengan bercecerah darah, kita dibuat merinding, apalagi untuk membaca cerpen-cerpen di dalamnya. Tapi kembali saya mengingatkan Anda untuk tidak khawatir karena ketiga penulis muda itu tidak sekedar mengulang cerita-cerita horor, melainkan dengan penuh kesadaran mengambil sudut cerita yang aktual dengan keadaan sekarang. Semakin penasaran bukan? Seperti apa cerpen-cerpen horor di dalamnya yang dikatakan aktual dengan keadaan sekarang? Lalu apa yang sebenarnya ditawarkan dari buku kompilasi cerpen ini?

Read the rest of this post »

Yang Melukai Halimunda, Kerabat Macondo Itu

oleh Berto Tukan, Kecoa Merah

Tentu judul di atas akan mengingatkan anda pada dua novel tebal yang sempat menarik perhatian para penikmat sastra dan buku itu. Ya benar! Macondo adalah sebuah kota imajiner dalam Seratus Tahun Kesunyian (STK) karya Gabriel Garcia Marquez dan Cantik Itu Luka bold (CIL) karya Eka Kurniawan berkisah di Halimunda. Tentu sudah sering kedua tempat ini dan kedua karya ini dibahas dalam berbagai kaca mata pembacaan. Karya sastra memang tak pernah bisa habis untuk dibahas.

Lihatlah Layar Terkembang, Romeo dan Juliet, atau Madame Bovary. Apakah ketiganya sudah bosan diperbincangkan? Menurut hemat saya tidak. Kreatifitas pengarang bisa dipandang sebagai kerja tanpa sadar untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak disadari pula. Jadi, karya sastra mengungkapkan sesuatu yang tak disadari dalam keadaan yang tak sadar (Kutha Ratna, 2008). Di sinilah peran pembacaan atas karya sastra nampak; mencari yang tak disadari sebagai hasil kerja yang tanpa sadar pula.

Read the rest of this post »

Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’

by Benedict R. O'G. Anderson, "Indonesia" Vol. 86


At the age of only thirty-two, the Sundanese Eka Kurniawan is without any doubt the most original, imaginative, profound, and elegant writer of fiction in Indonesia today. If anyone has a chance of filling the aerie in Indonesian literature left empty with the death of Pramoedya Ananta Toer, it is he. It is no accident that his first book, published in 1999, Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis, is by far the best work, admiring and critical at the same time, on the master written by an Indonesian.

Traces of Pram are visible everywhere in his fiction, yet Eka, born into another culture and in another, gloomier epoch, writes in an inimitable manner, which is immediately recognizable in any paragraph. Over the last six years, he has published two outstanding novels, the enormous if unwieldy Cantik itu ... Luka (Beauty is ... a Wound) in 2002, and the fiercely dense Lelaki Harimau (Man-Tiger) in 2004. In 2005 he published his first collection of short stories, Cinta Tak Ada Mati (No Death for Love), and, in the same year, a second collection, Gelak Sedih dan Cerita-cerita Lainnya (Sad Laughter and Other Tales), from which the story translated below has been drawn.

Read the rest of this post »